News Update : Memanfaatkan waktu guna kejayaan di masa depan.

Hot News »
Bagikan kepada teman!

Pembantaian di Amritsar 1919

Penulis : Ridwan Muu on Saturday, April 7, 2018 | April 07, 2018

Saturday, April 7, 2018

Pembantaian Jallianwala Bagh di Amritsar, India tahun 1919

       Sebuah pembantaian yang cukup menyenangkan, berakhir dengan banyaknya nyawa yang melayang. Dahulu (tepatnya musim Negara saling berperang, antara tahun 1900 hingga 1950). Tetapi sebenarnya, perang sejak abad pertengahan Eropa sudah berkecamuk, ada banyak pembantaian, sebenarnya pembantaian terakhir dan paling berdarah adalah pembantaian etnis Bosnia oleh tentara Serbia pada masa perang pemekaran di Yugoslavia. Pembantaian terbesar juga tercatat serius ketika Perang Dingin, Indonesia, Kamboja, dan China menjadi penyumbang terbanyak warga yang dibantai. Intinya, pembantaian sering terjadi ketika kesalahpahaman dan ketidaksepahaman lahir.

       Mengenai Pembantaian di India, ada satu pembantaian yang menewaskan 1.526 orang. Walau begitu, 2.000 lebih manusia menderita luka serius. Pembantaian terjadi pada tanggal 13 April 1919, menimpa warga di wilayah utara Amritsar, India. Perlu diketahui bahwa kata Amritsar dalam bahasa Punjabi bermakna “Kolam dari Sari Keabadian”. Nama yang sangat sempurna guna mengakhiri hidup. Warga di wilayah Jallianwala Bagh diakhiri dalam waktu sekitar 10 menit, cukup singkat untuk membereskan sekitar 3.600 warga. Tentu saja, butuh banyak peluru untuk mensukseskan misi pembantaian tersebut, terdiri dari 1650 butir peluru diluncurkan oleh 50 prajurit (tentu saja pelakunya adalah Tentara Inggris yang bersekongkol dengan tentara Gurkha). Setiap prajurit melepaskan 33 peluru guna mencabut nyawa warga sipil yang menjadi target. Saya tidak tahu apa hukuman untuk si pelaku setelah kejadian ini. Yang jelas kolonialisme dan imperialisme akan bercokol kuat ketika ada pengkhianat. Itu mengapa banyak yang mengumbar persatuan jika ingin melahirkan kemerdekaan.

       Perlu diketahui bahwa setelah kejadian memilukan di India ini, tepatnya tanggal 28 Juni 1919, Perjanjian Versailles yang akhirnya membantai kebebasan di Jerman ditandatangani. Kehilangan nyawa dan kehilangan kebebasan, saya kira kehilangan kebebasan lebih menyakitkan walau kehilangan nyawa itu mengerikan. Lagipula, saat kebebasan hilang, tentu ada kesempatan guna memunculkan kebebasan kita. Tanggal 13 April juga menjadi tanggal penting dalam dunia, tepatnya tanggal 13 April 1963 di Russia lahir seorang bayi yang kini kita kenal sebagai pecatur tercerdik sedunia, Garry Kasparov. Permaiann catur memiliki filosofi menarik, tujuan akhirnya adalah membuat sang pemimpin mati tak berkutik (mudahnya skak mat). Tetapi butuh banyak nyawa dari loyalis sang pemimpin, guna mencapai hasil akhir. Walau begitu, saya yakin pecatur terbaik tidak akan menjatuhkan banyak prajurit, berbeda dengan pecatur amatir seperti saya yang semakin lapar akan pembasmian (mudahnya, menang jumlah berarti menang).

       Pembunuhan itu, dikenal di India sebagai pembantaian Jallianwala Bagh, digambarkan Mahatma Gandhi (bapak gerakan kemerdekaan India), mengguncang landasan Kerajaan Inggris. Sekelompok tentara menembaki kerumunan tak bersenjata tanpa peringatan di kota India utara itu setelah beberapa lama kerusuhan, menewaskan ratusan orang dengan darah dingin. Brigadir Jenderal Reginald Dyer, yang memberi perintah penembakan itu, menjelaskan keputusannya dengan mengatakan merasa perlu memberi "pelajaran moral kepada warga Punjab" tersebut (walau saat itu Winston Churchil yang menjabat Menteri Urusan Perang tahun 1920 menyatakan bahwa hal tersebut bukanlah cara Inggris melakukan sesuatu. Walau begitu, beberapa pihak di Inggris memuji keputusan Brigadir Jenderal Reginald Dyer "sebagai yang menyelamatkan India", tapi yang lain juga mengutuk perbuatannya.

       Rangkum semuanya menjadi 4 kata; pembantaian adalah produk kenaifan! Tentu saja, karena perang adalah adu kecerdikan.
 
Terimakasih, Sabtu, 07 April 2018
comments | | Read More...

Puputan?

Penulis : Ridwan Muu on Wednesday, April 4, 2018 | April 04, 2018

Wednesday, April 4, 2018

Apa arti dari puputan?

       Semua kata memiliki arti, yang berguna untuk menjelaskan dengan baik kepada kita yang awam. Dahulu, banyak peristiwa penting yang saat ini bisa kita jadikan referensi, seperti halnya puputan. Ritual puputan (sebenarnya nama ritual ini cukup mengesankan) ini menjadi sebuah ritual yang sangat agung di pulau Bali, khususnya ketika Bali bersengketa dengan Belanda. Dari data yang saya dapat, ternyata puputan memiliki arti yang mudah (walau saya yakin untuk menjalankan ini ritual cukup sukar) puputan adalah sebuah ritual rakyat Bali yang bertujuan untuk mempertahankan kehormatan dan kewibawaan (sebenarnya hormat dan wibawa itu hampir mirip). Cara mempertahankan kehormatannya cukup berbahaya, yaitu dengan cara melakukan bunuh diri massal saat terjadi perang (kemungkinan terjadi saat situasi sudah mengarah pada kekalahan).

Hasil puputan Margarana tahun 1946

       Saat terjadi perang, maka ada banyak pilihan, diantaranya ada yang memilih untuk lanjut sampai ada yang binasa, ada yang berunding sambil menengok jalannya perang, ada yang gencatan senjata seraya menyiapkan intelnya guna serangan lanjutan, ada yang menyerah,, ada yang kabur dan menyamar, dan ada pula yang melakukan puputan. Tampaknya puputan ini layaknya ritual seppuku dalam kebudayaan Jepang, bedanya jika seppuku adalah ritual bunuh diri karena melakukan kesalahan, sedangkan puputan adalah ritual yang menjunjung kesetiaan. Peristiwa puputan yang tercacat apik dalam sejarah Bali adalah puputan Jagaraga pimpinan Raja Buleleng tahun 1849, dan puputan Margarana yang dijalankan oleh pasukan Ciung Wanara pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai tanggal 20 November 1946. Dan kedua puputan tersebut terjadi saat melawan pasukan Belanda.

       Harus diakui, banyak hal terjadi saat perang. Pembantaian, penjarahan, pendudukan, perbudakan, adalah hal yang sering lahir saat perang. Saat ini perang adalah hal yang paling tidak diinginkan (saya sendiri mengkhawatirkan masalah perekonomian saat terjadi perang). Saat kita perang, kita dituntut untuk berjuang hingga menang atau setidaknya pulang nama dengan bau bunga kenanga (ini bunga kematian!) Dahulu, ada peristiwa yang cukup mengerikan juga, yaitu peristiwa Bubat antara pasukan Majapahit dan Sunda. Intinya, saat kita memilih untuk mati tanpa mempertahankan hal yang seharusnya dipertahankan, itu bukan bagian dari puputan. Karena saya bukan orang Bali, maka itulah saya tidak bisa menulis dengan detail mengenai ritual puputan.

       Puputan hanya diperuntukkan bagi mereka yang memiliki jiwa kepahlawanan, tentu berbeda dengan orang awam macam kita, mungkin kita lebih memilih menyerah lalu menjadi budak dan mati terinjak-injak. Puputan juga dilaksanakan bukan tanpa alasan, yang namanya ritual sejak dahulu memang sakral.

       Saya memiliki leluhur yang tangguh, saya baru sadar bahwa nenek moyang Indonesia ini murni pahlawan sejati, mereka berjuang bukan untuk mencari sesuap nasi, tetapi mempertahankan harga diri. Walau begitu, sangat disayangkan bahwa ternyata banyak juga leluhur kita yang bekerja kepada Belanda, semua dari kita menyayangkan mengapa leluhur kita dahulu tidak bersatu? Saya kira, manusia itu akan bergerak karena situasi, dan entah mengapa kita banyak terdepak oleh situasi tersebut. Mudahnya, jangan menjadi budak kehidupan.

Terimakasih, Rabu, 04 April 2018

Ridwan
comments | | Read More...

Perang Puputan Margarana

Penulis : Ridwan Muu on Tuesday, April 3, 2018 | April 03, 2018

Tuesday, April 3, 2018


Perang Margarana

       15 Agustus 1945, hari (entah hari apa) di mana Kekaisaran Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu! Sebuah tanggal yang sangat mengerikan, mengingat saat itu sekutu menang dan mereka ingin menambal dana mereka yang bocor digunakan membiayai Perang Dunia 2. Jelas, mereka ingin kembali mengeruk dan memeras habis wilayah jajahannya dahulu. Indonesia yang sebelum dikuasai Jepang, menjadi milik Belanda kembali ingin diambil, bermodalkan keputusan internasional yang memerintahkan pasukan sekutu untuk menyita persenjataan dan memulangkan pasukan Jepang yang masih tertinggal di wilayah Indonesia. Tentu, situasi ini membuat Indonesia yang saat itu baru lahir ketar-ketir, laskar-laskar di seluruh wilayah Indonesia segera bertindak guna mengamankan sebanyak mungkin persenjataan Jepang, dengan bantuan dari Tentara Keamanan Rakyat, membuat Indonesia semakin kuat. Belanda yang sejak dahulu berkonspirasi dengan Inggris, kali ini cukup cerdik juga mengelabui rakyat Indonesia. Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo yang selangkah lagi menjerat Inggris terpaksa meladeni siasat NICA (dengar saja bagaimana kekesalan Bung Tomo dalam pidato 10 Novembernya). Tetapi kali ini kita bicara mengenai perjuangan rakyat seberang Surabaya, yaitu pasukan Bali yang sebelumnya juga pernah bertempur menghadapi Belanda di tahun 1846 hingga 1849. Dahulu, perjuangan I Gusti Ketut Djelatik dan rakyat Buleleng  telah dipatahkan oleh Belanda, dan kali ini kita lihat bagaimanakah perjuangan Kolonel I Gusti Ngurah Rai beserta rakyat Bali dalam menghadapi Belanda di perang Margarana.
Judulnya bukan perlawanan, harusnya awal sebuah konflik
 
       Beginilah kronologi mengenai perang Margarana, tanggal 20 November 1946 ketika malam mencekam (jelas di pulau Bali banyak anjing) Kolonel I Gusti Ngurah Rai memerintahkan prajuritnya untuk menyita persenjataan NICA, beruntung pasukan tersebut berhasil mendapatkan persenjataan milik NICA yang bermarkas di kota Tabanan. Pasukan tersebut segera kabur membawa persenjataan menuju markas mereka di desa Marga. Mengetahui persenjataannya banyak yang hilang, segeralah esok harinya Belanda menyerbu markas Kolonel I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya, sejak subuh pasukan belanda sudah mengepung desa Marga. Setelah pasukan Belanda berhasil mengurung desa Marga, tembak-menembak segera meletus. Awal yang sangat baik, pasukan Belanda terkena banyak tembakan dan mundur sejenak guna menunggu kedatangan bala bantuan dari seluruh pasukannya di wilayah Bali, lalu Belanda juga menunggu pesawat pengebom yang didatangkannya dari Makassar (tampaknya Belanda ini punya banyak markas di Indonesia, ya! Wajar kalau perang kemerdekaan Indonesia memakan banyak korban jiwa di pihak Indonesia).

       Datangnya bala bantuan membuat pasukan Belanda semakin mengerikan, pesawat pengebom tidak segan-segan menhujani desa Marga (beruntung desa Marga tidak bernasib sama seperti Hiroshima). Intinya, pasukan pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai sangat terdesak hingga membuat jumlah pasukannya menurun drastis, begitu juga dengan semangat juang para pasaukan yang mulai mengendur. Melihat keadaan mencekam tersebut, sang pemimpin menunjukkan jiwa patriotnya (begitulah orang Bali kalau serius, walau saya tidak begitu mengerti bagaimana orang Bali berpikir, saya ini orang Jawa; jadi wajarlah). Tersisa hanya 96 orang membuat situasi pasukan Bali sangat kritis, ditambah pasukan Belanda yang masih lengkap dengan persenjataannya. Jika kita sudah berusaha keras, lalu hasil mulai sedikit mengecewakan, kita harus mulai berpikir untuk menyerah atau melarikan diri, setengah-setengah seperti mencari aman, begitulah pemikiran seseorang yang tidak memiliki jiwa kepahlawanan. Tentu saja, berbeda dengan pasukan pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai, saya yakin jika yang terdesak adalah Belanda, maka mereka akan membahas kemungkinan perundingan guna gencatan senjata, seperti layaknya di medan perang Surabaya. ‘Kenapa kita ada di sini?’ Mungkin begitu kalimat pertanyaan dari Kolonel I Gusti Ngurah Rai kepada prajuritnya yang hanya berjumlah kurang dari 100. ‘Kita bergerilya saja, kita habisi Belanda sedikit demi sedikit!’ Mungkin begitu jawaban saya jika saat itu saya anggota prajurit pimpinan sang Kolonel. Tetapi, Kolonel I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya memutuskan untuk perang puputan.

Tebak yang mana sang pimpinan, dan apa bahasa Bali untuk teman seperjuangan?
       Strategi puputan tampaknya keputusan yang berisiko tinggi, mengingat bahwa perang puputan adalah perang tanpa memikirkan apa yang terjadi dan mengapa mesti terjadi. Yang mereka pikirkan hanya satu hal; berperang! Biarlah hidup ini berjalan dengan alami, yaitu mati. Mereka melakukan puputan untuk menyalurkan naluri keprajuritan mereka, begitulah yang saya pikirkan. Saat kita menjaganya, kita akan mengerti betapa berharganya. Intinya begini saja, saat perang puputan berkobar, sebanyak 400-an pasukan Belanda tewas, sementara semua prajurit pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai tewas tanpa sisa, termasuk sang pimpinan sendiri, wajar karena mereka akan berhenti perang hingga jantung tak lagi berdetak. Sialnya, pasukan Belanda masih tersisa begitu juga dengan persenjataanya, itulah mengapa pulau Bali akhirnya dikuasai oleh Belanda hingga tarik-ulur antara para pendiri Negara ini dengan Kerajaan Belanda dirundingkan.

       Begitulah perjuangan Kolonel I Gusti Ngurah Rai bersama pasukan Ciung Wanaranya di desa Marga, Tabanan, Bali. Beliau meninggal pada usia 29 tahun. Namanya sangat harum di negeri penuh bunga ini, menjadi nama Bardar Udara Internasional Ngurah Rai, Gerbang Tol Ngurah Rai, dan dalam perekonomian juga sangat penting karena beliau menjadi foto profil uang pecahan Rp.50.000. Walau saat ini sudah diganti oleh pahlawan lainnya di uang Rp.50.000. Untuk orang awam seperti kita, mustahil kita mengerti arti sebuah perjuangan, katanya menjaga hasil sebuah perjuangan lebih sulit, tetapi lihatlah sekali lagi betapa sulitnya saat kita berjuang.

       Rangkam semuanya menjadi sepuluh kata; Saya belum mengerti apa yang dipikirkan oleh mereka para pahlawan!
 
Terimakasih, Selasa, 03 April 2018
comments | | Read More...

Perang Jagaraga


Perang Jagaraga

       Nama Jagaraga berasal dari sebuah desa yang saat itu menjadi markas darurat bagi kerajaan Buleleng setelah Istana Buleleng resmi diduduki Belanda tanggal 28 Juni 1846. Entah mengapa banyak peristiwa bersejarah terjadi di bulan Juni. Nama Jagaraga memang sangat ideal untuk sebuah benteng, namun ternyata nama tidak selalu membawa keberuntungan. Berharap pada sebuah nama hanya membuat sebuah usaha tidak maksimal, jelas bahwa nama tidak memiliki arti dan pengaruh apapun di kehidupan keras ini. Kembali pada pembahasan perang Jagaraga, berawal dari sebuah tradisi rakyat bali masa itu, lalu jelas sekali Belanda sebagai penguasa kepulauan Nusantara saat itu menolak tradisi yang tidak menguntungkan pihak Belanda, saat itu waktu menunjukkan antara tahun 1844 hingga 1906. Sebelum masa ini, Belanda sudah habis-habisan dalam membantai orang Minangkabau pimpinan Imam Bonjol, dan juga meredam habis pasukan Jawa pimpinan Pangeran Diponegoro. Periode ini juga periode kelam bagi keshogunan Tokugawa di Jepang, lalu lahir era Meiji yang menghembuskan angin segar, walau begitu di Bali perang Jagaraga terus berkobar.

Hanya Ilustrasi, tahun 1846 itu tahun antah barantah
       Kita bahas tradisi apakah yang membuat perang Jagaraga lahir, harus diakui bahwa pulau Bali memang sejak dahulu sulit untuk ditaklukkan, lagipula saat itu pulau Bali adalah pulau yang sangat mistis menurut orang jawa, warga Bali juga sangat sakti dalam hal ilmu dan ajian kata nenek moyang. Demi mengejar dana yang sempat habis karena meladeni Imam Bonjol dan Diponegoro, Belanda melabuhkan kapal dagangnya di pulau bali, lalu tradisi Hak Tawan Karang terjadi. Padahal seharusnya Belanda berdagang saja ke Nagasaki, itu lebih menguntungkan walau warga Jepang cukup ketat dengan aturan pajak. Hak Tawan Karang adalah sebuah tradisi yang telah disepakati oleh raja-raja di pulau Bali guna merampas kapal asing beserta muatannya yang terdampar di pulau Bali, lebih mudahnya, kapal yang terdampar menjadi milik kerajaan yang menguasai wilayah terdamparnya kapal tersebut tanpa harus ijin terlebih dulu kepada si pemilik kapal. Harusnya Belanda menghormati tradisi tersebut, tetapi jelas itu sangat merugikan, tujuan penjajahan salah satunya adalah Gold, jelas tradisi ini bertentangan dengan tujuan awal sang penjajah. Padahal tradisi Hak Tawan Karang adalah tradisi kuno yang tercatat nyata di dua prasasti sekaligus, tentu sebagai Raja, menjalankan dan menjaga tradisi nenek moyang adalah sebuah kehormatan, jelas berbeda dengan Raja-raja Eropa yang cenderung menelantarkan tradisi, mereka lebih mengutamakan revolusi demi pembangunan peradaban.

       Seperti biasanya, Belanda menawarkan sebuah pilihan kepada kerajaan-kerajaan di pulau Bali, walau saya yakin pilihan ini keduanya menguntungkan pihak belanda, sejak dahulu pilihan memang sulit, apalagi yang menawarkannya adalah pihak yang pelik. Pilihan pertama adalah, hak tawan karang dihapus. Dan pilihan kedua adalah, kita perang adu kekuatan. Empat dari delapan kerajaan di pulau Bali menandatangani penghapusan Hak Tawan Karang bersama Belanda, yaitu Kerajaan Badung, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan. Sementara Kerajaan Buleleng memilih untuk tidak begitu setuju namun tidak juga menolak. Puncaknya ketika Belanda pada tahun 1845 memaksa Raja Buleleng untuk menandatangani penghapusan Hak Tawan Karang, tapi Raja Buleleng tetap saja menolak, (lagipula siapa nama Raja Buleleng saat itu, apakah si penulis artikel ini miskin referensi? Tentu saja saya kaya, nama rajanya adalah Gusti Ngurah Made Karangasem, beliau Raja ke-11). Karena orang dahulu suka menyelesaikan masalah dengan perang, maka pilihan perang menjadi keputusan. Dahulu belum ada hotel bintang lima guna sebuah perundingan adu muslihat, itu mengapa medan perang sangat ideal guna mengambil sebuah keputusan. Lagipula, Belanda menyalahkan Hak Tawan Karang karena tidak sesuai dengan hukum laut Internasional, sebuah alasan guna memanfaatkan situasi. Belanda memang sejak Cornelis de Houtman sudah menjalankan proxy war terhadap rakyat Bali, tentu saja tanpa alasan, kita tahu bagaimana Belanda menginjak-injak tradisi terhormat di seluruh kerajaan di Nusantara saat itu, terlebih di Mataram. Warga Bali yang menjunjung tinggi tradisi tentu saja tidak setuju akan semua keputusan Belanda.

Sedikit lebih jelas bagaimana peradaban Bali jaman dahulu
       Serbuan awal pasukan Belanda terjadi di tahun 1846, ditujukan untuk mengambil alih kerajaan Buleleng, setelah ultimatum 3 kali dalam 24 jam Belanda tidak dihiraukan. I Gusti Ketut Djelatik sebagai panglima perang Buleleng dengan gagah menghadapi serbuan pasukan Belanda pimpinan Laksamana Engelbertus Batavus van den Bosch, panglima Belanda ini bukan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ke-43, van den Bosch. Gubernur Jenderal yang memimpin Cultuurstelsel itu sudah berhenti tahun 1834, lalu kembali ke negeri Belanda dan mati di sana tanggal 28 Januari 1844, tentu beliau tidak melihat jalannya perang Jagaraga. Sebanyak 1700 prajurit Belanda harus menghadapi 10.000 pasukan Buleleng (saat itu penduduk pulau Bali sekitar 700.000 jiwa). Namun, naas karena Belanda dengan cepat berhasil mengalahkan serdadu Buleleng tersebut, lalu segera maju menuju Singaraja yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan Buleleng, dengan mudah Belanda menduduki istana buleleng, dan lalu memaksa Raja Buleleng menandatangani perjanjian penghapusan hak tawan karang, tetapi kembali lagi Raja Buleleng menolak. Jelas, peristiwa supersemar cukup mirip dengan peristiwa ini, jika saat itu bung karno tidak menandatanganinya, entah apa yang terjadi, Perang? Tentu saja. Yang jelas saat itu saya belum lahir, jadi tentu saya tidak ikut perang, kadang jadi desersi itu menguntungkan, kan? Itulah pilihan mendesak yang dilakukan oleh Patih I Gusti Ketut Djelatik dan Raja Buleleng, mereka dan sisa pasukannya mundur ke wilayah Jagaraga. Perlu diketahui juga bahwa tahun 1846 ini juga terjadi perang antara pasukan Amerika Serikat mengahadapi Meksiko, alhasil Meksiko harus kalah dan kehilangan tiga wilayah pentingnya, yaitu Texas, California, dan New Mexico. Intinya, daerah utara Meksiko hilang, dan begitu juga wilayah utara Pulau Bali yang juga diduduki oleh si penjajah, Belanda. Tetapi perjuangan kerajaan Buleleng belumlah berakhir.

       Setelah istana Buleleng dikuasai Belanda, Raja Buleleng berlindung di benteng Jagaraga. Tanpa pikir panjang, Belanda menyerbu guna menguasai benteng Jagaraga dan menghukum Raja Buleleng yang tidak patuh dengan hukum Internasional. Belanda menambah pasukannya menjadi 2.400 prajurit yang sebagian besar adalah orang Jawa dan Madura (kenapa leluhurku ini membantu Belanda?). Tidak kalah garang, I Gusti ketut Djelatik berhasil mengumpulkan 16.000 prajurit, alhasil pasukan Belanda pimpinan Jenderal Carel van der Wijck tersebut kalah cukup mudah. Kali ini giliran Belanda yang mundur dan menjadi desersi, sampai mereka kembali ke pulau Jawa. Tak mau menyerah, keduanya kembali bertempur tahun 1849, kali ini Belanda memanggil pasukan terbaiknya dari Batavia dan Sumatera Barat, di lain pihak pasukan Bali juga tak kalah serius, mereka mengumandangkan perang puputan, yaitu perang sampai titik darah penghabisan (seharusnya semua perang memang memiliki idealisme seperti itu, kan?) Kalau begitu, saat itu pasukan bali memang sangat serius menghadapi belanda, kan? Perang yang paling utama bukanlah slogan, tetapi kesendirian. Itulah mengapa perang gerilya lebih efektif ketimbang perang habis-habisan.

Jika memang perang seperti ini, lebih baik damai.
       Ekspedisi ketiga Belanda kali ini dipimpin oleh Jenderal Andreas Victor Michiels, beliau membawa 8.000 pasukan guna mengalahkan Buleleng dan juga menaklukkan seluruh kerajaan di pulau Bali. Itu karena delapan kerajaan di pulau Bali mulai mengetahui perjuangan rakyat Buleleng, dan lalu seluruh warga Bali menyatakan perang kepada Belanda. Akhir yang cukup menyedihkan, pasukan Bali kalah. Walau begitu, upaya penaklukkan seluruh Bali berbuah menyakitkan juga bagi Belanda, setelah menaklukkan Jagaraga, Jenderal Andreas Victor Michiels melanjutkan ekspedisi, dalam ekspedisinya di desa Kusamba (saat ini berada di pesisir kabupaten Klungkung), serangan prajurit Bali di desa tersebut membuat Jenderal berkepala botak dan berkumis tipis tersebut terluka parah terkena serangan pasukan telik sandi Bali. Serangan tersebut membuat paha (entah paha kanan atau kiri belum jelas) Jenderal Andreas Victor Michiels harus diamputasi, sial setelah kaki berhasil dipotong (berarti kemungkinan besar pahanya terkena panah beracun atau mungkin lembing, mengingat prajurit Bali adalah telik sandi, kemungkinan mereka bersenjatakan panah, lagipula seorang Jenderal biasanya berada di bagian paling belakang, satu-satunya cara untuk menyerang sang jenderal adalah dengan senjata jarak jauh, atau mungkin paha Jenderal Michiels kena santet!) Intinya, kaki berhasil lepas dari tubuh rentannya, bersamaan dengan nyawanya, wafat sudah seorang Jenderal yang juga sebelumnya sudah membereskan Imam Bonjol dan pasukan Minangkabaunya. Walau begitu, Pulau Bali sepenuhnya berada di tangan Belanda.

       Alhasil, prajurit Bali menelan kekalahan, sangat sulit saya terima karena dengan kekalahan Bali, maka siapa lagi yang bisa mengusir Belanda dari bumi pertiwi ini. Benteng terkokoh di pulau Bali sudah dikuasai Belanda tahun 1849, Raja Buleleng beserta pengikutnya yang tersisa sekitar 400 orang memilih untuk melakukan tradisi puputan ketimbang harus menyerah dan menandatanganiperjanjian dengan Belanda (saya tidak bisa berkomentar apapun untuk keputusan Raja Buleleng ini, mengingat saya lebih memilih untuk menjadi desersi). Perlu diketahui juga bahwa tahun 1849 juga menjadi tahun kemalangan warga Punjab, India yang juga dikalahkan oleh pasukan Kerajaan Inggris. Secara bertahap setelah menduduki benteng Jagaraga, Belanda mengalahkan semua kerajaan di pulau Bali, hingga bulan September 1906, belanda menguasai pulau Bali sepenuhnya setelah mendaratkan pasukan terbaiknya di pantai Sanur guna menghadapi pasukan Kerajaan Badung tanggal 20 September 1906. Perlu diketahui bahwa tahun 1906 adalah tahun kelahiran perusahaan otomotif asal Inggris, Rolls-Royce, tepatnya tanggal 15 Maret 1906.
 
Terimakasih, Selasa, 03 April 2018
comments (1) | | Read More...

Apresiasi?

Penulis : Ridwan Muu on Friday, March 23, 2018 | March 23, 2018

Friday, March 23, 2018

       Saat kita melakukan sesuatu, kita mesti berdedikasi. Setelah kita menciptakan sesuatu, apakah itu memiliki nilai bagi kehidupan? Tidak peduli memiliki nilai atau tidak, tetapi menghasilkan sesuatu bukanlah perkara mudah, ada saat di mana kita harus bisa menghargai apa yang susah payah kita kerjakan. Meminta penilaian orang lain kadang perlu dilakukan guna menilai apakah yang kita kerjakan sudah memenuhi kata layak ataukah belum. Lagipula, tidak semua bisa memberikan penilaian yang mebuat kita lebih baik, malahan banyak penilaian yang unsurnya hanya menjatuhkan. Harus diakui bahwa kekuatan psikis, mampu membuat fisik dan pikiran kita bertambah kuat, dorongan dari sebuah penilaian adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan guna menunjang kemajuan. Ada yang mengatakan bahwa saat rang lain menelurkan hal yang baru, berilah apresiasi guna tercapainya kehidupan yang baru.

       Apresiasi memiliki arti kesadaran akan penilaian. intinya sudah jelas, kita tidak bleh meminta sebuah apresiasi, tugas kita hanya mengerjakan dengan dedikasi dan menghasilkan sebuah inti, di akhir biarlah mereka yang menyempurnakannya dengan sebuah apresiasi. Saat kita ingin memberikan sebuah apresiasi, kita mestilah membangun pondasinya, yaitu kesadaran. Sesuatu yang sangat berharga pastilah akan membuat kita tersadar, saat itulah kita mengambil langkah untuk mengapresiasi. Tidak sembarangan kita mengumbar penilaian, apalagi sampai melntarkan pujian bertubi-tubi dengan tujuan memotivasi. Padahal yang dibutuhkan para pekerja keras bukanlah sebuah motivasi, tetapi kesadaran dari orang lain akan apa yang telah kita hasilkan.

       Sebuah apresiasi tidak melulu hal yang postif, adakalanya hal negatif juga diberikan, ada yang mengatakan bahwa kritikan itu penting guna kemajuan. Harus diakui bahwa tidak semua orang mengerti bagaimana cara mengkritik dengan baik, tetapi yang lebih sering adalah kita yang tidak membuka diri dengan kritikan. Sebenarnya, pondasi kita dalam mengerjakan sesuatu bukanlah tak atau fisik kita, tetapi kemampuan bawah sadar kita, itu mengapa sebuah apresiasi hanya boleh diberikan oleh mereka yang sudah mampu mengendalikan diri. Menilai hanya dengan insting dan teori umum hanya akan merusak sebuah dedikasi, perlu kesadaran dan sadar diri sebelum memberikan sebuah apresiasi. Dan ingat betul bahwa kita melakukan sesuatu bukan karena ingin sebuah apresiasi, junjunglah dedikasi dan pengabdan diri guna kelancaran sebuah apresiasi.

       Sebagai inti pembahasan, jangan terpaku dengan sebuah apresiasi, atau kita akan ditinggal pergi oleh dedikasi dan pengabdian diri. Begitulah kenyatannya.

Terimakasih, Jumat, 23 Maret 2018

Ridwan
comments | | Read More...

Radikalisme?

Penulis : Ridwan Muu on Thursday, March 22, 2018 | March 22, 2018

Thursday, March 22, 2018

       Berasal dari sebuah kekecewaan yang turun-temurun, saya kira begitu. Apa yang telah kita putuskan, tidak akan membuat semua pihak bahagia, walau sebenarnya tidak usah kita sampai memutuskan sesuatu yang akhirnya membuat salah satu pihak merugi. Keadilan yang sangat jelas mustahil untuk ditegakkan di dunia ini, berharap semua pihak mendapat keuntungan, naas bahwa di dunia ini ada jenis manusia yang memiliki idealisme mengerikan, kita menyebutnya dengan istilah Radikal. Bermula dari sebuah tindakan, hingga akhirnya semakin masif dan melahirkan sebuah paham, kita mengenalnya dengan sebutan Radikalisme. Guna menyesuaikan dengan perkembangan zaman, itulah sebab mengapa angkara murka saat ini terlihat seperti ilmu pengetahuan yang sangat menarik untuk dipahami. Film Death Note adalah satu dari sekian banyak contoh radikalisme yang tampak menarik dan efektif.

       Radikalisme adalah sebuah paham yang memaksakan perubahan mendasar dalam struktur sosial politik. Mengapa radikalisme bisa disebut paham atau ailran?, sudah seharusnya kita menilai radikalisme dengan sesuatu yang tak berdasar, mereka yang radikal menggunakan cara ekstrem bahkan sampai menggunakan jalan kekerasan guna mencapai mereka punya tujuan. Dalam ilmu psikologi, siapa yang melakukan sesuatu secara berlebihan dan cenderung dipaksakan, biasanya untuk menutupi kesalahan. Sejatinya saat kita benar, kita hanya perlu melakukan sesuatu yang menurut kita benar, biarlah situasi yang melahirkan peluang guna kita melakukan perubahan. Radikalisme jelas mengekang sebuah situasi, mereka menganggap bahwa situasi tidak lebih hanya tembk yang perlu diruntuhkan dengan cara apapun. Mereka yang menjunjung radikalisme hanyalah manusia yang merusak tatanan kehidupan.

       Susahnya menyusun dan mengesahkan sebuah sistem, lalu mereka yang radikal dengan lancangnya merusak, sebenarnya saya sendiri masih belum mengerti betul apa tujuan sebenarnya dari radikalisme ini, mereka hanya memprpagandakan sesuatu yang sepertinya sangat sederhana dan menyenangkan. Harus diakui bahwa untuk menghanguskan radikalisme tidaklah mudah, kita mau tidak mau dituntut untuk menggunakan cara kekerasan, tetapi sekali lagi bahwa saat kita meredam kekerasan dengan kekerasan, isu HAM akan menyeret kita pada sesuatu yang tidaklah menyenangkan, rumit memang.

      Sebagai kesimpulan, menang dengan anggun adalah kebijaksanaan. Radikalisme tak ayal hanya benalu dalam tangkai kehidupan, apa yang harusnya kita lakukan?

Terimakasih, Kamis, 22 Maret 2018

Ridwan
comments | | Read More...

Prioritas?

       Hidup adalah untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan hidup itu sendiri. Walau harus diakui bahwa hanya bertahan saja bukanlah tindakan yang bijaksana. Setiap dari kita memiliki cara tersendiri guna memenuhi kita punya kebutuhan, tetapi tujuan akhir tetaplah sama; kemajuan. Saat kita menganggap kepentingan adalah segalanya, maka kita tinggal menunggu kebuntuannya, tetapi saat kita menomorsatukan kebutuhan, selamanya kita tidak akan pernah merasakan kemajuan. intinya, hidup itu susah, ada sesuatu yang sangat rumit yang selalu menggelitik kita, senantiasa tak berguna, tetapi hal yang samar kadang perlu didahulukan, kita mengenal hal itu dengan istilah prioritas.

       Prioritas memiliki makna sederhana; utama. Sebenarnya, utama itu lebih tinggi ketimbang pertama. Sesuatu yang utama pastilah menang dalam hal kualitas. Hidup itu pilihan, dan sikap keragu-raguan adalah sesuatu yang paling lekat dengan sebuah pilihan, melihat pengalaman ke belakang atau memilih berspekulasi akan masa depan, jelas sudah bahwa sebuah keputusan membutuhkan perencanaan dan keberanian ekstra. Kita memilih sesuatu bukan karena ingin, tetapi karena butuh, adakalanya kita menempatkan keinginan sebagai pilihan pertama, tetapi selalu tempatkan kebutuhan sebagai yang paling utama. Cara bertahan hidup yang lebih efisien adalah dengan mengutamakan kebutuhan.

       Tidak semua kebutuhan menunjang kemajuan, ada kebutuhan mendesak ada ada juga yang bisa ditunda. Memilih adalah yang paling berat, dan salah memilih jelaslah sudah hasilnya. Prioritas harus lebih dekat dengan waktu, unsur efektivitas sedikit ditunda guna efisiensi waktu. Tetapi ada juga yang mengutamakan efektivitas ketimbang efisiensi, hal itu sama baiknya walau sebenarnya priritas tidak begitu setuju. Harus diakui bahwa prioritas akan selalu membawa pada kemajuan, hanya perlu menahan keinginan.

       Sebagai inti dari pembahasan, kendalikan waktu guna mengefektifkan prioritas. Harus diakui bahwa sebuah keinginan selalu saja nikmat, walau akhirnya selalu berkhianat.

Terimakasih, Kamis, 22 Maret 2018

Ridwan
comments | | Read More...
 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. Sejarah . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger